- Festival Gandrung Sewu 2026 bakal menghadirkan pertunjukkan yang belum pernah muncul dalam 14 tahun perjalanan event budaya di Banyuwangi tersebut. Untuk kali pertama, ribuan penari akan menarikan Gandrung Sewu pada malam hari di Pantai Marina Boom pada Sabtu (24/10) mendatang.
Dikutip dari Radar Banyuwangi (Jawa Pos Grup), para penari akan tampil dalam balutan atribut fosfor dan tata cahaya panggung spesial. Konsep baru itu dirancang untuk menghadirkan pengalaman visual berbeda sekaligus membuktikan bahwa tradisi dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budayanya.
Sedikitnya seribu penari dari Banyuwangi dan luar daerah bakal terlibat dalam pertunjukan tersebut. Kalangan pelajar juga menjadi bagian dari ribuan penampil yang akan menghidupkan panggung Gandrung Sewu 2026.
Perubahan waktu pementasan menjadi malam hari menjadi pembaruan paling mencolok dalam penyelenggaraan tahun ini. Jika selama ini Gandrung Sewu identik dengan pertunjukan siang atau sore hari, maka edisi ke-14 akan memanfaatkan suasana gelap sebagai bagian dari konsep artistik.
Sekilas konsep ini mengingatkan pada keindahan menonton kunang-kunang di malam hari. Menyaksikan erangga yang berkelap-kelip di malam hari memang menhadirkan sensasi visual tersendiri.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan perubahan tersebut bukan sekadar memindahkan jam pertunjukan. Malam hari justru menjadi ruang untuk mengeksplorasi tata visual yang berbeda melalui permainan cahaya, atribut fosfor, serta koreografi ribuan penari.
“Setiap tahun kami senantiasa berupaya menyajikan hal baru dalam Gandrung Sewu. Tahun ini untuk pertama kalinya kita tampilkan pada malam hari. Ini bukan sekadar pergeseran waktu pelaksanaan, melainkan kami ingin menyuguhkan pengalaman yang berbeda kepada penonton dan wisatawan,” ujar Ipuk.
Ribuan Penari Berpendar di Tengah Tata Cahaya
Konsep malam membuat unsur visual menjadi bagian penting dalam Gandrung Sewu 2026. Para penari akan mengenakan atribut berbahan elemen fosfor yang dirancang untuk memunculkan efek berpendar ketika berpadu dengan tata cahaya.
Perpaduan gerak ribuan penari, atribut fosfor, dan pencahayaan panggung tersebut akan menciptakan suasana yang berbeda dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.
Pantai Marina Boom dipilih sebagai lokasi pementasan. Kawasan tersebut selama ini menjadi salah satu ruang publik dan destinasi wisata yang menjadi bagian dari wajah pariwisata Banyuwangi.
Dengan pementasan pada malam hari, Gandrung Sewu 2026 sekaligus menawarkan dimensi baru bagi penonton. Seni tari tradisional tidak hanya dinikmati melalui gerakan dan musik, tetapi juga melalui pengalaman visual yang dibangun dari cahaya dan atmosfer pertunjukan.
Tak kurang dari seribu penari akan tampil secara bersama-sama. Mereka berasal dari Banyuwangi maupun luar daerah, dengan pelajar turut mengambil bagian dalam pertunjukan budaya berskala besar tersebut.
Gandrung Sewu Berevolusi, Tradisi Tak Kehilangan Akar
Selama 14 tahun penyelenggaraan, Gandrung Sewu berkembang menjadi salah satu ikon budaya Banyuwangi. Setiap tahun, pertunjukan tersebut menghadirkan tema dan pendekatan artistik yang berbeda, sementara tari gandrung tetap menjadi fondasi utamanya.
Tahun ini, eksplorasi dilakukan melalui waktu pertunjukan dan teknologi panggung. Konsep tersebut menjadi cara baru untuk mempertemukan kesenian tradisional dengan kebutuhan pertunjukan modern.
Bagi Pemkab Banyuwangi, perubahan itu tidak dimaksudkan untuk mengubah identitas Gandrung Sewu. Sebaliknya, kreativitas digunakan sebagai medium untuk membuat tradisi tetap relevan dan menarik bagi penonton lintas generasi.
Ipuk menegaskan, perkembangan zaman tidak harus membuat tradisi kehilangan karakter. Menurut dia, tradisi justru dapat terus berkembang selama nilai dan identitas budaya yang diwariskan tetap menjadi pijakan.
“Tradisi tidak harus diam di tempat. Tradisi bisa terus bergerak, beradaptasi, dan berkembang mengikuti zaman, tanpa kehilangan jati dirinya. Esensi utama Gandrung Sewu tetaplah seni tari gandrung itu sendiri, dengan gerakan, ritme, ekspresi, serta nilai budaya yang diwariskan oleh para pendahulu kita,” tegas Ipuk.
Gandrung Sewu 2026 Jadi Panggung Eksperimen Budaya
Pementasan malam hari membuat Gandrung Sewu 2026 bukan hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga ruang eksperimen bagi pengembangan pertunjukan budaya.
Penggunaan atribut fosfor dan tata cahaya memberi peluang untuk membangun atmosfer yang sulit diwujudkan dalam pementasan siang hari. Namun, di balik perubahan tersebut, unsur utama Gandrung Sewu tetap berada pada gerakan, ritme, ekspresi, dan seni tari gandrung.
Bagi wisatawan, perubahan waktu pementasan juga membuka pengalaman baru menikmati salah satu pertunjukan budaya unggulan Banyuwangi. Sementara bagi para penari, panggung malam akan menjadi pengalaman berbeda karena setiap gerakan harus menyatu dengan tata cahaya dan elemen visual yang disiapkan.
Posting Komentar untuk "Tahun ini Gandrung Sewu Banyuwangi akan berpendar di malam hari"